Catch on

Catch on - Phrasal Verb

If something catches on, it becomes popular… people start using or following it. It could be related to technology, fashion, slang phrases, etc.

1. It took no time at all for Facebook to catch on in Brazil and surpass Orkut. It practically happened overnight. In fact, all forms of social media caught on really quickly here.

2. Do you think it’s easy for anyone to make up (“invent”) a new phrase and make it catch on so that the whole population starts using it? Perhaps social media helps to spread the word much easier these days.

3. The Emo culture (music/ fashion/ behavior) originated in the early 1980’s in Washington DC. Soon it caught on and spread to the Midwestern and Central United States… and then really went mainstream internationally in the 2000’s with the emergence of many well-known Emo bands.

4. I am really interested in the process of how something catches on. In many cases I think it is really an artificially induced “popularity” as hype is created by advertising campaigns and marketing in general.

Advertisements

Make up for

Make up for - Phrasal Verb


If you try to make up for something, you are trying to compensate for missed opportunities or mistakes that you have made, especially neglecting someone or forgetting what is important to the other person.

1. If you’re late for work, do you try to make up for it and act extra friendly to your boss and coworkers… or maybe work a little harder or faster?

2. Do you think there’s any way for a person to make up for killing someone or something equally as extreme?

3. It is the same story the world over: Parents who are not present while their children are growing up (because they are too busy focusing on their career or social life) try to make up for it by giving their children expensive things. There is no substitute for a parent’s time. Steve Jobs gave his family everything except his time. Does all that money make up for him not being there?

4. If you’ve forgotten your wife’s/ husband’s/ partner’s birthday or your wedding anniversary, etc., how could you make up for it without having to suffer the consequences?

Woman Touch

35913_10200135462489242_1194485040_n
BAnggakan ADIK ADIK mu 🙂

Hi, My older Me! 🙂
Hari ini saya, your younger you, tengah memangku majalah. Ada foto @Gwyneth Paltrow sama anaknya dan para bolang di Pulau Komodo. HAlaman satunya lagi berisi image cover bertuliskan “Perempuan Misterius Hambalang”.

Yah, majalh TEMPO sudah ambil posisi di meja kamar saya sejak beberapa bulan lalu, semuanya merupakan pemberian @Voadhe Dendi dan @Voedha Dandi 🙂

Senang melihat Adik Kembar mu tumbuh dewasa, berusaha mengikuti gejolak era, memiliki majalah kampus di mejanya, novel-novel inspiratif khas mahasiswa dan maalah-majalah ternama seperti ini juga tabloid bisnis 🙂

Bangga juga saya duduk di travel menuju kampung sambil memangku cetakan-cetakan ini yang baru saja dipilihkan untuk dibawa pulang 🙂

YAh kalian sudah harus begini.

Pertama kali ke PEkanbaru, tertanggal 9 Oktober demi memverifikasi KTPU BPS. Saya menginap di kontrakan sang Adik-Adik di Merpati Sakti, Panam. Sesampai disana, tak lain tak bukan, setelah berbenah diri, yang saya lakukan adalah membenahi kamar mereka. Giving the room a little of woman touch and actually it turn out to be ‘not a little’, really 😀
Kali kedua ke Pekanbaru, 8 November, guna mengikuti TKD BPS esokk harinya.

Kelegaan demi kelegaan melumuri neuron saya setiap saya melihat keadaan menditail dalam rumah ini dan lalu menerjemahkannya ke dalam kepribadian the Grown Up AD dan ED.

Induk kucing dengan new born babies nya ditempatkan secara hangat dalam dus di dapur, mencerminkan sikap hangat hati dan kepedulian mereka. Lucunya, besoknya si induk kucing mengeong-ngeong di hadapan pintu kamar yang tertutup dan setelah dicari tahu -lumayan tricky nih induk sehingga awalnya tahu tak didapat- ternyata si kucing menghandapkan anak-anaknya di gulungan kasur. Hmmm, butuh yang HOTTER yah 🙂

Not to mention the more detail, 11 Oktober saya balik dan bawa beberapa TEMPO.

Walau belum semua terbaca, setidaknya kehadiran TEMPO di meja osin saya menginspirasi secara lantang diri ini untuk berusaha lebih GIAT lagi 🙂

Teman ESDE ku Caleg?! Cakeeepp!!

1234107_704456276238193_1152880967_n

    Manis, potojenik, punya nama seperti nama artis punya nama keren dan punya gelar pendidikan. Kamu begitu? Ayo obral poto kamu dan pajang di pinggir jalan.

Terkesan (cuma) mengandalkan gelar pendidikan yang (baru saja) dimiliki, banyak sekali mereka memposterkan diri di tepi-tepi jalan. Berukuran 30cmx50cm dan diposisikan di antara puluhan poster lain yang sudah lebih dulu ambil tempat-tempat strategis, poster-poster ini cukup mengacaukan otak saya yang sedang berusaha mencari cara agar perjalanan tiga jam saya di dalam travel tidak membosankan. Yah, biasanya saya selalu senang melihat pemandangan sawah dan pohon-pohon besar di sepanjang tepian jalan, hal itu selalu membantu saya to kill the time. Tapi dengan berseraknya poster-poster ini, saya jadi kehilangan hak untuk menikmati texture batang pohon dan lekukan sawah kuning di belakangnya. Alahh. Kencangnya arus sungai dibalik rerumputan kurang plong terlihatnya 🙂

Hehe.

Sebenarnya sih terganggunya saya lebih kepada apa yang saya lihat dari balik senyum di setiap poto-poto itu, dibalik gumpalan make-up yang sengaja di-apply demi menghasilkan poto yang elok dipandang. Dihiasi sedikit kata-kata janji dan angka pilih disampingnya. Buahhhh setelah apa yang terjadi dengan kebanyakan orang yang kita dudukkan di bangku-bangku strategis, yang dengan pengalaman mengumbar-umbar janji-janji manisnya, masih adakah yang tidak mahu mencibir beberapa foto ini? Wanita muda yang saya taksir baru saja diwisuda dengan yakinnya (oh maaf, saya yakin dia pun tak yakin) dengan tidak yakinnya berusaha meyakinkan masyarakat untuk meyakininya dalam hal mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, meh!

Sudah cukup dengan para gadis pinggiran jalan itu. Apa yang saya dapat di rumahlah yang lebih mengejutkan.

Teman SD saya, wahhh it`s the besst part::: mencalonkan diri juga jadi caleg. Ahaayyy. KAlau yang satu ini, saya sih percaya akan kedewasaan dirinya, tapi tetap saja agak tergelitik membayangkan kemampuannya membina bangsa. Ah sampai sekarang saya masih sering tersenyum sendiri. Melihat imsakiyah di dinding rumah, pamflet 10cmx15cm tertempel di kaca luar dan baliho mungil di beberapa persimpangan jalan menuju kampung, ah, ternyata RBP sudah mengawan sekarang :)))) 🙂

7 November 2013, if im not mistaken, sehari setelah hilangnya @Nek Maktuo, RBP mendatangi desa kami.
Awalnya., di tepi jalan dalam perjalanku dan Tante dan ririn dan Diki menuju rumah Maktuo, saya mendengar sapaan dari salah seorang pria yang diboncengi pria lain, namun saya tidak yakin siapa sipenyapa. Sesampainya di ujung lapangan (dimana ujung satunya lagi adalah rumah Maktuo) waaah saya tak percaya yang saya sedang lihat: RBP tengah bersalaman dengan ibu-ibu di pinggir lapangan. IYa, dialah sipenyapa tadi 😉 Aw saya malu sekali untuk berjalan di dekatnya, maka saya pilihlah untuk berputar setengah lapangan dan memilih alternatif lain menuju rumah MakTuo, demi menghindari berhadapan langsung dengan sang Caleg. Malang tak dapat dihindar, mujur ntah iya, sempat sedikit lega dengan keputusan saya beralih jalan, akhirnya shock menumbuk saya di kepala 😥 Malah sang Caleg duduk-duduk dengan bapak-bapak di halaman sebelah ujung jelah yang saya pilih, jalan yang saya pikir adalah jalan keselamatn ternyata jalan kejutan. Ya sudahlah. Saya terpaksa berjalan di hadapan mereka. Okelah, ini adalah detik-detik dimana saya menjadi dua orang, satu saya adalah orang yang tengah berjalan di kegugupan, satunya lagi adalah saya yang berusaha menyemangati saya satunya lagi agar SOSO’! Alhasil, saya yakin saya jalan dengan anehnya. hihi
SAya berjalan menuju samping kanan rumah, menuju tangga tempat para wanita yang mungkin heran melihat lenggok jalan saya. Kenalkan ibuk, ini adalah gaya jalan gadis kegugupan sayng malu sama teman eSDenya, itutuhh temannya *nunk=juk kekiri

Saya pilih berdiam di bagian belakang rumah Maktuo bersama AMA & TANTE, ririn dan ibu-ibu cantik yeang sabar menunggu kabar para tim yang sedang melakukan penyisiran. Tim terdiri dari anggota SAR PMI, BNPM, TNI, Pemuda dan Bapak-bapak kampung, dll.

Long story Short, RBP pamit pulang, ah , tentu saja sebagai Caleg yang sedang sale diri, menyalami setiap pengunjung. Oh my, para Ibu disamping saya pun dibegitukan. Jalan menghampiri onggokan Ibu-Ibu dan Saya, RBP tersenyum yah tentu saja dengan senyum komersialnya, saya tak bisa mengelak, harus stand di tempat ini, begitu dia berlalu dari saya, saya langung selamatkan diri, lari bak ayam kalah adu duduk di sebalah Nyiak ZUlmi, di samping rumah, paling samping, paling ujung dah. Oh ya, kalau ada yang melihat dan kemudian menilai saya menyuruk seperti tikus yang sedang dikejar kucing kala itu, maka orang tersebut tidaklah salah. RBP berlalu, meninggalkan Ibu-Ibu yang saling lempar kata: “eh itu siapa”, “eh itu caleg itu ha” “itu tu si Budi, yang ada balihonya disitu tuu” 😀
hahaha

Beberapa minggu lalu RBP inbox saya di fb, untung beberapa hari lalu saya putuskan untuk membalasnya, bukannya sekarang. if you know what i mean bukan setalah saya melihat kharismanya di depan Bunda, ceile 😉
Ah, mungkin lain kali saya mutlah, harus mengonfirmasi friend requestnya

oke, Saya memang geli dan sedikit grogi dengan teman eSDe satu ini. Masih sulit membayangkan dia memimpin seonggok anggota negri ini. Geli! Yah Geli!

Namun begitu, selamat berjuanglah kawan 🙂
Saya mendukung, namun saya tak kan pernah memilihmu.
Saya sih tidak akan memilih siapapun (kok) !

Saya anti demokrasi ^_^